Beberapa kawan saya sudah mulai upload foto bertoga dengan caption “Alhamdulillah” yang panjangnya bisa saja melebihi kereta cepat Jakarta-Bandung. Saya bukannya iri, tapi geli(sah). Saya masih nyinyir dengan raut muka yang tidak berubah saban harinya. Tetap kusut jarang mandi karena menunggu diwisuda.

Target saya, bulan  puasa ini urusan kuliah semuanya sudah rampung. Tinggal leha-leha sambil main “remi” bareng teman sekamar. Lha kurang apa lagi? saya sudah ngebut skripsi dengan segala keseriusan serta cita-cita luhur untuk on time delivery. “Maaf, belum saya baca” lagi-lagi begitu jawaban pembimbing.  Padahal skripsi sudah saya setor jauh sebelum Julia Perez menggunduli kepalanya. Haduh gusti, paringi  pil ekstasi.

Saya jadi sering menghibur diri. Mempelajari ilmu ushul website, berkali-kali membuat WPAP (karena sering gagal), dan berkali-kali menulis lawakan garing yang jarang saya publikasikan (ini salah satunya). Dalam persemedian ini saya benar-benar terhibur, meski sering merasa malu karena sering khusyuk nongkrongin laptop, lebih khusyuk dari shalat tarawih babak pertama. Meningkatkan sikap individualis saya. Tapi di balik kekhusyukan saya itu, di balik egoisme  itu, di balik semedi itu, saya mendapat kelegaan yang mak plong setelah tiba-tiba saya mewawancarai diri saya sendiri.

Begini ringkasannya :

Sodara-sodara sebangsa, setanah, seair dan seapi.

Memangnya, apa pentingnya wisuda? Apa pentingnya kelulusan?

Kelulusan sejatinya adalah ketika kita mau bekerja, mau peduli, mau merasa dan mau mengabdi. Dan buat kamu Mbak “ xxx “, iya kamu, kelulusan sejati adalah ketika kamu mau jadi miliku, eeaa :v

Jangan sampai selfie nyengir sambil pamer selempang itu gak relevan dengan gelar sarjana mahasiswa “Sarang” yang namanya lebih harum dari NKRI itu. Walhasil, Foto wisudamu itu cuma jadi pencitraan di medsos. Kan Nggilani, kalau lulusan sarjana STAI Al Anwar taunya cuma ruang Laptop, Warjok, sama Trio-G, di tambah angkringan KS dan PakBudi. Bercandamu itu blaz gak lucu.

Sudah begitu, sodara mengaku sebagai intelektual setelah dapet toga? Memangnya seberapa besar karya ilmiah kita  menambah khazanah keilmuan Islam? Atau seberapa berartinya kita menuntaskan persoalan masyarakat, banjir, fakir, miskin, anak terlantar, hingga kasus-kasus jomblo terlantar yang tak lagi mampu di tangani Pak Jokowi? Lha mbok stop ngarep jadi sarjana kalau ngetripmu itu cuma ngakak-ngakak bareng teman sejawat di angkringan tetangga. Sudah berapa buku yang khatam kita baca? Berapa karya ilmiah yang kita produksi? Berapa ulasan kritis atas persoalan sosial yang kita terbitkan? Seberapa lihai kita membaca realitas sosial dan mencoba menuntaskannya? Seberapa sering kita berbaur di ruang-ruang diskusi?

Wisuda kita itu gak ada artinya. Yang lebih penting adalah menjadi manusia yang peduli, yang gemar menolong dan bermanfaat. Menjadi santri Sarang yang kaffah lebih penting dari foto bertoga.

Haraplah cemas dengan janji kita untuk menjaga nama baik pesantren. Semoga kelak, ketika pulang nanti, sekembali kita dari kampus ini, dari pesantren ini, orang akan banyak bergumam. “Pantesan, alumni Sarang”.