Prosesi Wisuda Yang Tidak Bisa Biasa Saja

Sebab mencari ilmu adalah kewajiban bagi sesiapa yang memiliki akal waras,

Jenjang ini juga masih jauh untuk ikut mewujudkan sepenggal amanat proklamasi, “memberantas kebodohan”

Mulanya, saya ingin biasa saja. Saya ingin mempertahankan keyakinan bahwa wisuda berikut gelarnya bukanlah kerang ajaib yang layak untuk di-dewa-kan. Sebab mencari ilmu adalah kewajiban bagi sesiapa yang memiliki akal waras, agama sudah mengkultuskannya. Jenjang ini juga masih jauh untuk ikut mewujudkan sepenggal amanat proklamasi, “memberantas kebodohan”.

Tetapi, saya yang tadinya pengen biasa saja pada akhirnya harus berpura-pura biasa saja. Sebab prosesi wisuda tetaplah prosesi sakral yang mengimingi sejuta keharuan. Suasana pun pecah. Melihat orang tua-orang tua kami yang teramat bergembeira dengan wisuda ini, seluruh keluarga hadir untuk ikut menemani, saya jadi turut haru dan girang.

Ibu saya, saya merasakan kehadiran beliau melalui sepucuk surat yang beliau titipkan. Di dalamnya beliau masih tetap memanggil saya dengan awalan “ananda”, panggilan romantis seorang ibu kepada anaknya yang sangat ia sayangi. Melalui surat itu, ibu mengucapkan selamat, saya merasakan getaran yang begitu luar biasa. Saya melihat ketulusan serta kebahagian dari seorang Ibu. Semoga engkau tetap dalam lindungan Allah. Selalu sehat ya Bu….

Terimakasih untuk segenap keluargaku yang sudah bersedia bermacet-macetan di jalan serta mencicipi banjir di Semarang hanya untuk menemani prosesi wisuda ini. Terimakasih. Keluarga adalah kekuatan.

Juga saya sampaikan sanjungan penuh takzim kepada seganap guru kami, yang telah bersabar membimbing kami yang kolot ini, terkhusus untuk gurunda Romo KH Maimoen Zubair yang berkenan memberi nasihat di akhir prosesi, dan gurunda Dr. KH. Abdul Ghofur yang membrikan banyak bimbingan dan motivasi, terimakasih.

Terimakasih untuk seluruh pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini, Segenap dosen, panita, kawan-kawan PSM, terimakasih

Terimakasih juga keapda seluruh teman-teman yang telah ………(tulis sendiri, pokoknya kalian semua luar biasa). Foto teman-teman yang bergentayangan di media social membuat saya juga terangsang berat untuk ikut menguploadnya disertai dengan tulisan ini, berikut saya lampirkan foto nyengir saya yang memakai toga peci hitam berwarna putih sebagai bukti bahwa saya, bahwa saya…. Yah gitu lah pokoknya.

Dari Pokok Pesisir Sarang

Episode II