Saya seringkali gelagapan saat ditanya sarjanamu itu besok bisa buat kerja apa, pasalnya jawaban “saya sekolah bukan untuk cari kerja” sudah kadung dianggap blunder. Padahal sejujurnya, memang saya sekolah tidak untuk cari kerja. Jawaban “untuk menjadi manusia yang kaffah” atau “ supaya bisa ikut memperbaiki bangsa” juga terasa klise. Saya bukan golongan makhluk tuhan paling serius yang terbiasa berkata bijak. Apalah saya itu, hanya sedotan ale-ale yang tanpa sengaja masuk bangku perkuliahan. Walhasil, saya hanya tersenyum lalalayeyeye, saya tidak hendak menjawabnya sekarang. Saya ingin menjawabnya kelak jika sudah Tuhan mengizinkan.
Anggapan bahwa sekolah adalah upaya pencarian kerja merupakan bukti nyata kesalahan sistem pendidikan kita. Sayangnya, mainset sekolah untuk bekerja sudah kadung menjadi kemistri yang mengakar. Sistem pendidikan saat ini telah sukses menitipkan beban yang sedemikian besar kepada muda-mudi untuk menjadi para pekerja siap saji kelak meski pada kenyataanya tidak banyak lapangan kerja yang disediakan.
“lha kog mengkambinghitamkan pemerintah, maaf-maaf, sekali lagi maaf, saya masih percaya kog bahwa pemerintah itu bukanlah kambing yang perlu untuk dihitam-hitamkan, sekali lagi maaf”
Baiklah, anggap saja, itu adalah bagian dari kedunguan kita para pelajar dalam memaknai i’tikad baik pemerintah yang ingin memberantas kebodohan. Pemerintah Indonesia hendak menjalankan amanat proklamasi, yakni mencerdaskan bangsa.
Jika sudah seperti itu, maka nyinyiri bocah sekolahan dan menganggapnya cuma mau cari kerja adalah sama halnya produk kegagalan sistem pendidikan, eh maaf, kedunguan kita dalam memahami i’tikad baik pemerintah. Kita sama saja menganggap bahwa sekolah adalah peternakan manusia. Yang ketika mereka lulus, mereka segera bisa dimanfaatkan telurnya, dagingnya, atau bulunya. Bukan, bukan seperti itu. Paradigma seperti ini haruslah dirubah.
Sudah seharusnya setiap pelajar dan seluruh warga Negara Indonesia untuk ikut saling bahu-membahu dalam mensukseskan niat baik pemerintah untuk memberantas kebodohan. Entah pesantren atau sekolah formal, keduanya punya peran masing-masing. Meski begitu, saya sendiri juga enggan untuk pasrah bongkokan begitu saja pada pendidikan Indonesia dan seluruh sistemya.
Sebagai bocah yang telah menyelesaikan progam wajib belajar 9 tahun, saya jadi tahu, di dalamnya ada banyak sekali hitam putih. Hitamnya adalah banyak sekali pelajaran yang dirasa terlalu memaksakan para siswa untuk mengetahuinya. Sebenarnya, kurikulum bermaksud baik, yakni memberikan pengetahuan dasar entah itu mengenai sosial, alam, agama atau lain sebagainya. Matematika misalnya, matematika dianggap menambah kerumitan hidup serta merampas indahnya masa kanak-kanak dan remaja. Ia tidak bisa hadir dalam realitas keseharian. Sejatinya, paradigma rendahan macam inilah yang membawa kita sulit memahami Matematika dan pelajaran lain, percayalah! Akibatnya, Matematika hanya menjadi pajangan yang beku di kelas-kelas. Matematika dan mata pelajaran lain tidak lebih dari sekadar alat untuk mendapatkan nilai di buku rapot. Itu saja.
Sebagaimana guyon yang pernah disampaikan oleh teman SMP dulu. “kenapa kita dipaksa untuk tahu kapan mobil akan tabrakan jika kcepatan mobil A 60 km/jam dengan jarak diantara keduanya sepersekian meter dan bla bla bla”. Maka mengubah paradigma kita dalam memaknai pendidikan adalah besar pengaruhnya dalam pembentukan karakter terpelajar.
Mengenai contoh di atas, saya akan coba jelaskan. Jadi begini, Matematika dan segala tetek bengeknya mengandung manfaat terselubung yang tanpa sadar melatih kemampuan dasar kita untuk menangkap pola dari sesuatu yang berantakan. Resapilah.
Sekolah memang tidak memberikan janji kepada kita, tetapi sekolah membuka pintu kepada kita untuk menjelajahi kehidupan. Di dalamnya kita tidak hanya belajar tentang pengetahuan saja, tapi juga tentang sosial, pergaulan, kesadaran, keorganisasian dan manajemen. Banyak hal bisa kita dapatkan. Saya ingin menegaskan bahwa sekolah tidaklah melulu tentang kognitif saja, yang mana berkutat pada nilai, pengetahuan dan pemahaman. Masih ada afektif dan psikomotrik yang sangat membantu kita untuk menjadi remaja terpelajar. Seperti harapan semua orang. Meski begitu, sebagai seorang santri, saya juga turut merasakan bahwa pesantren memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap pendidikan (yang saya rasakan). Oleh sebab itu, baik pesantren, sekolah formal, perguruan tinggi semuanya adalah wadah bagi kita untuk melunasi haus ilmu pengetahuan yang menggebu, untuk pula memberantas kebodohan. Jika ada yang kurang pas dengan sistem atau tradisinya, mari kita berusaha memperbaiki bersama, dimulai dari yang terkecil. Dari diri kita sendiri dan dari lingkungan kita.
Kalau paragraf di atas kamu baca dan tafsirkan bahwa saya sedang mencari payung perlindungan, Ya tak apa. Namanya juga tafsir. Saya pun berhak menjawab: taek, ah! Impaskan? 🙁 ….
Hayati lelah bang jelasin semuanya 🙁 :v