Sampeyan tahukan bahwa ide itu adalah inisial yang perlu dirangkai untuk menjadi pola pikir yang apik, yang enak dicerna layaknya Sego Kragan #eh Kalau sudah kau fikirkan kenapa tidak kau tuliskan? Kalau sudah kau tuliskan kenapa tidak kau tamatkan? Tidak usah lagi ada pertanyaannya, LAKUKAN!!! Demikian Djenar Maesa Ayu pernah berkata.
Ditambah obrakan dari Om Alawy As-syihab yang terus memberi contoh dengan artikel-artikelnya yang segar nan khas, serta bocah semi Under Dog Kang Mur Ori yang suka malu-malu kebo saat nerbitin artikel, dan tak ketinggalan Om Hasyim Asy’ari yang sedang memfokuskan keberangkatannya ke Jerman. Tulisan mereka selalu bikin kita ngiri+ngenes tetapi memotifasi kita untuk cepat-cepat menerbitkan artikel. Mereka hanya beberapa sempel kecil bocah-bocah jebolan LPM Garda Pena di kampus tempat kami belajar.
Baiklah, cukup untuk intronya. Jreng-jreng!!!
Alkisah, di penghujung benua sana, hiduplah kawanan manusia. Mereka hidup dipenuhi berkah. Kekayaan alam yang melimpah, bermacam budaya dan berbagai aneka yang beragam. Seniman legendaris era 70an – Koes Plus – pernah mendendangkan lagu tentangnya : “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghidupi dirimu, orang bilang tanah kita tanah surga…. ”. Itulah dukuh Endonesya, dukuh yang sudah teramat mashur akan kemakmuran dan kekayaannya.
Kita sama-sama tahu, sampai saat ini kekayaan itu tidak sepenuhnya kita nikmati, kita gelandangan di negeri sendiri, begitu sindir Cak Nun, kita dipaksa menjadi budak importir. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang mendasari masalah di atas, salah satunya adalah Ideologi Konsumtif. Warga dukuh Endonesya sudah mencapai darurat konsumsi, Overkonsumtif yang tanpa diimbangi dengan produktifitas yang memadai adalah kebrobrokan yang berkepanjangan. Ideologi itu akan menghilangkan kesadaran kita untuk sepenuhnya memegang kekuasaan atas kekayaan yang kita miliki. Ideologi itu akan membawa kita menjadi bangsa yang mudah diakali.
Lagi, Ideologi konsumtif tersebut akan mengekor pada keserakahan yang fatal, percayalah!! Sikap tersebut akan menuntun kita untuk rela menanggalkan rasa kemanusiaan demi kepuasan pribadi.
Sabda Pramoedya yang mengatakan bahwa tingkat konsumtif suatu bangsa berbanding lurus dengan tingkat korupsi adalah benar adanya. Mental konsumtif akan melahirkan benua korupsi.
Pikirannya tidak ndakik-ndakik, pernah suatu ketika depan rumah Om Pram ditanami bunga oleh seorang anaknya. Sebangun dari tidur, belio beranjak dan mencabuti seluruh tanaman bunga itu lalu menggantinya dengan pohon tomat dan cabai. Sederhana, bahwa bunga itu bukanlah tanaman produktif.
“lho, Cak? Bukankah menanam bunga di rumah itu amatlah bagus dan indah?”
Iya, bener. Memang Indah, INDAH NDASMU!!! bukan di situ esensinya. Apakah sampyan tidak merasa, bahwa bangsa kita sudah overkonsumtif, saya, kamu dan kita semua cenderung nyaman menjadi konsumen. Kita lebih sering bermewah-mewahan, bangga memiliki tanaman mahal, bangga membeli gadget terbaru dan mobil berkelas, bangga mengoleksi barang antik dan cewek cantik o0ps. Mengubah Ideologi konsumtif adalah cita-cita awal yang harus kita gaungkan, kita harus menjadi individu yang produktif. Belajar menjadi manusia yang produktif amatlah penting untuk masa depan kita dan dukuh kita. Produktif adalah tidak melulu tentang materi, mejadi manusia yang bermanfaat adalah secuil implementasi nyata.
Pada poin ini, pidato Bung Karno, amatlah penting untuk kita baca kembali.
“Sodara-sodara, ada sebuah Negeri bernama Utarakuru, dilukiskan negeri itu negeri yang aman, tentram, adil, makmur, toto, titi, tentrem, karto kuroharjo, tidak ada panas, panas yang terlalu, tidak ada dingin, dingin yang terlalu. Tenang…. tenang.…. tenang!!, tetapi, apakah sodara-sodara ingin menjadi bangsa yang seperti itu? Tidak!! Kita ingin menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang digempur, hancur lebur bangkit lagi, bangsa yang gempur, babak belur, bangkit lagi.”
Halah….kita itu memang makhluk tuhan yang paling embuh….