Ereksi Ahok dan Impotensi Parpol
 
Sebentar lagi “Teman Ahok”, “Lawan Ahok” dan “Bukan siapa-siapanya Ahok” bakal memasuki pesta politik, pemberitaannya memenuhi media, baik media maya maupun nyata. Ramai sekali DKI Jakarta punya hajat. Tapi itu masih benar, memang harus ramai, kan hajat politik, kalau sepi si namanya “Buang Hajat”. Untuk yang satu ini kalau dimediakan bisa kena sanksi KPI. – Oh iya, tapi ada lho kemarin publik figure yang ngotot memediakan persalilan istrinya. Saya lupa siapa namanya, lupa, soalya dia anggota dewan yang gak terkenal itu lho 😀
Nah, Biar tambah ramai, saya pengen ikut nimbrung bahas Pilgub DKI. Seharusnya media berterimakasih kepada saya, di tengah kesibukan saya  untuk meyelesaikan skripsi, rela-relanya saya melonggarkan diri untuk ikut meramaikan berita Jakarta. Tetapi memang, tidak ada yang bisa ngertiin aku, yang bisa ngertiinaku cuma “Kamu”, iya Kamu. :v
Tulisan saya ini, tidak sedang bakal bahas masalah hukum Pemimpin Non Muslim, untuk urusan ini, saya belum berkapasitas membicarakannya dari sudut pandang agama, maklum santri amatiran hehe. Takut ada yang baper :D. saya hanya menulis seputar refleksi saja. Tentang fenomena Ahok dan Isu Deparpolisasi.
Ahok sekarang sudah semakin dewasa, dia sudah bisa ereksi sendiri tanpa harus dibantu Pe-pe. Ke-mlete-an Ahok untuk maju secara independent ini menarik perhatian publik. Tanggapannya pun beragam, ada yang biasa saja dan ada yang lebih biasa-biasa saja. Eh, kebalik, maksud saya ada yang biasa dan ada yang luar biasa. Beberapa awak media pun menjadikannya bahan obrolan pengisi halaman depan koran dan hotnewsberita harian.
Lha gimana tidak mlete, Jakarta itu kan kota besar, etalase Indonesia kog teganya tidak butuh partai. Seperti ungkapan politikus berlogo Banteng ini.
“Jakarta terlalu besar kalau sekadar diselesaikan satu orang baik sekali pun. Orang baik tak cukup, satu superman tak akan cukup, jadi dibutuhkan partai politik,” ungkap politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko. Ibu Kota gitu lho. Kog tega-teganya Ahok maju independent wakakakaka. What the hell !?
Baiklah pak, mumpung masih ramai film Batman Vs Superman, gimana kalau kita undang mereka. Jangan cuma Gotham aja yang diurus. Bila perlu sekalian kita undang avenger lain seperti X-Men, Kungfu Panda, dan komplotan Divergent yang sudah sukses menayangkan Insurgent dan Allegiant. Jika masih kurang di Indonesia kita masih punya banyak stok. Mulai dari Jaka Tarub, Angling Dharma sampai Saras 008. Heuheuheu. Kalau pengen greget lagi ya panggil saja pahlawan-pahlawan Star Wars, jangan lupa pula ikutkan Iko Uwais :v
Sebenarnya, Kalau beliau mau ngalah sedikit saja, dan menerima tawaran bu Mega serta menyelesaikan nyang-nyangan di balik undangan makan malam, pasti nasib Ahok di Pilgub lebih mujur, makin popular dan makin kuat. Makin gampanglah Ahok menikmati empuknya paha JKT48. Eh maaf, maksutnya JKT1. 😀
Keengganan Ahok untuk menerima pinangan PDIP malah menambah derasnya arus Deahokisasi. Dimana undang-undang untuk maju secara independent semakin dipersulit. Wah, kelihatan sekali kan kalau para politikus partai gagap menangani hegemoni si Tionghowa satu ini.
Sudah maju Independent, calon wakil independent pula. Cerita tentang tidak populernya nama Heru Budi Hartono saat dipilih Ahok sama seperti ketika Louis van Gaal memainkan Marcus Rashford di Liga Europa pekan lalu. Bocah ingusan itu memang tidak familiar, saya aja yang sejak kecil hidup di Pekalongan tidak kenal kog :v. Bedanya, jika Heru belum terbukti membawa Ahok memuncaki DKI1 kembali, Rashford si orbitan muda ini minimal telah membobol gawang Petr Cech, ketika MU menumbangkan Arsenal 3-2 pada akhir Februari lalu.
Kesimpulannya adalah saya Muslim dan saya gak pilih semua :D, saya datang dari Negara Pekalongan, Indonesia hanya secuil bagian dari desa saya. Apalagi DKI :p