Negeri ini memang mengasyikan, ada banyak hal menarik yang bisa kita bicarakan, salah satunya adalah fenomena Dimas Kanjeng. Lumayanlah, bisa untuk menghabiskan waktu menunggu sidang skripsi yang gosipnya akan dilaksanakan pada 15 Oktober mendatang. Kalau tidak mundur lagi lho ya  # denganlogatMyStupidBoss.

Bagi penggemar humor recehan, fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi cukuplah layak untuk mengocok perut. Sangat menyenangkan, paling tidak cukup untuk menghibur kami yang akhir-akhir kerap merindukan tugas makalah dan tetek-bengek perkuliahan lainnya. Maka berbahagialah kalian wahai mahasiswa semester muda #purapuramemotivasi.

Sebenarnya, kita perlu banyak berterimakasih kepada Dimas, bukan karena senyumnya yang aduhai manis-manis sepet, bukan!! Dimas telah berhasil mengingatkan pada budaya kita, budaya ujug-ujug. Budaya yang mengajarkan kita bahwa skripsi bisa jadi tanpa kita harus menggarapnya, uang bisa datang tanpa kita mencarinya, kesuksesan bisa diraih tanpa kita memperjuangkannya.

Fenomena Dimas adalah cerminan masyarakat kita. Masyarakat yang terlampaui batas menjadi makhluk paranoid. Kesaktian (abal-abal) Dimas Kanjeng telah berhasil mengalahkan nalar logis beberapa dari kita. Terukhus untuk tante MD (tentu bukan nama asli, nama aslinya adalah Marwah Daud, sengaja saya inisialkan untuk menghormati etika Pers) yang sampai membela bahwa Dimas adalah aset negara yang harus dijaga. Untuk kali ini saya setuju, Lawakan Dimas beserta taek-taeknya memang harus dipertahankan, sebagai hiburan sampingan masyarakat awam seperti kami ini.

Budaya ujug-ujug amatlah tidak baik, tidak sehat tidak pula menyehatkan. Kita bakal terbawa arus untuk ikut menikmati sepiring nasi yang padahal kita tidak ikut menanaknya. Muaranya adalah mental, mental pesulap yang berharap semuanya dapat di-kunfayakun-kan. Mental untuk ujug-ujug kaya, ujug-ujug sukses, dan ujug-ujug tidak jomblo #eh

Khusus untuk ini, saya ada sedikit puisi apik

بغير عناء والجنون فنون #  تمنيت ان تمشى فقيها مناظرا

Ungkapan bahwa gila itu aneka rupa adalah benar adanya. Bahkan untuk urusan uang, nalar logis manusia normal bisa dengan mudah terkalahkan.

Jika sampeyan masih tetap tidak faham dengan apa yang saya sampaikan, sebaiknya anda mendatangi Mbah Muhyidin, kemudian bertanya betapa sulitnya membuat skripsi. Lihat betapa wajahnya dipenuhi catatan kaki. Karena saya sadar betul, Dimas kanjeng pun tidak akan bisa menggandakan skripsi.