Makin hari, Indonesia makin defisit komedi. Semua guyonan tidak lagi selucu zaman dulu. Zaman dimana –you-know-who- hanya baru menjadi Gubernur Bengkulu. Andai aku bisa pergi ke Planet Namek dan mencari tujuh bola Dragonball, tentu aku akan meminta agar Warkop DKI benar2 dihidupkan kembali. Agar selera humor masyarakat kembali pulih. Tidak melulu tegang, terlebih saat berhadapan dengan –you-know-who-.

Reaksi masyarakat, belakangan bisa sedemikian hebat kala dihadapkan dengan apa-apa yang berbau Ahok ( tentu itu bukan nama asli, sengaja saya samarkan untuk menghormati etika pers ). Duh, betapa susahnya menjadi Ahok.

Sangarlah masyarakat kita, mereka begitu peka, tidak seperti kamu !!

Disini, saya tidak hendak membahas antara setuju atau tidak setuju tentang 04 Nov nanti. Jika saya mendukung, saya bisa ditertawakan oleh teman-teman saya. Dan jika saya menghujat, saya bisa lebih ditertawakan oleh teman saya yang lain. Dan jika saya bicara mengenai hukumnya, wah saya bisa ditertawakan oleh semua orang. Oleh karenanya, saya lebih memilih diam, sambil diam-diam terus menikmati eksotisme JKT48. Eh, salah, JKT saja, tanpa “48”.

Tapi menurutmu, apa ndak terlalu over jika hanya untuk menghadapi –you-know-who-, kita sampai bersusah menurunkan ribuan bahkan ratusan ribu umat. Lha wong lawannya cuma si Aaahhh… sudahlah. Jika tujuannya untuk menunjukan kekuatan kog rasanya malah gak ada kuat-kuatnya sama sekali. Jika tujuannya untuk peduli atau memperjuangkan agama apakah tidak ada cara lain yang lebih “elegan” dan bisa membuat pemeluk agama lain bertepuk tangan.

Untuk menyampaikan suara kan tidak mesti teriak-teriak sampai otot leher membengkak. Untuk menunjukan bahwa kita peduli agama pun tidak harus melulu gembar-gembor sampai menggap-menggap seperti ikan Nemo. Cukup dilakukan dengan cara yang “ihik”. yang penting klimaknya tercapai. Habis sudah perkara.

Kawan sekepenulisanku pernah bercerita, saat jalan desa yang rusak tidak kunjung diperbaiki pemerintah, sekelompok pemuda secara kolosal menanam pohon pisang berjajar rapi di tengah jalan. Lunaslah jalan tersebut menjadi kebun pisang jadi-jadian.

Setungku seperapian, kawan saya Umar Multazam, punya cara yang unik untuk mengkompori pelaksanaan Wisata Religi. Dia cukup tari perut di depan halaman kampus sambil membawa tulisan “Bukan cuma aku yang butuh piknik! Mari kita jaga kekompakan ”. Mengharukan sekali. Lalu cara kongrit seperti apa dalam menanggapi cocot –you-know-who-? Ah, sampeyan-sampeyan inikan lebih waras daripada saya, lebih berpengetahuan dan berpengalaman dalam menyuarakan suara.

Pasalnya, saya masih belum paham dengan logika yang digunakan pada 04 Nov. Benarkah ini isu agama? atau agama yang diisukan? yang dibelakangnya terdapat berbagai motif kelompok lain yang berkepentingan. Sudilah kiranya kawan “urun rembuk” di sini.

Dengan mengatasnamakan agama, disitulah letak kekhawatiran saya. Kita membawa harga diri Islam. Membawa citra Islam. Bagaimana jika didalamnya ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang ikut menunggangi dan semakin memperkeruh suasana, citra Islam akan semakin tercoreng.

Sering menampilkan kekuatan melalui kuantitas tanpa diimbangi dengan kualitas justru akan membuat citra Islam makin keruh. Umat Muslim akhir-kahir ini justru kerap kali menghadirkan kehebohan-kehebohan baru di masyarakat dari pada memberikan bukti nyata bahwa Islam adalah agama kasih-sayang, yang mampu menenangkan jiwa, membahagiakan umat di dunia dan di akhirat.

Anggaplah saya ini barisan “berani mati tapi takut lapar”, sehingga kami lebih memilih turun pena daripada turun jalan. Tapi, jika masih dianggap tidak peduli agama, ya memang, saya memang gak peduli.

gak peduli ndasmu!!